Negeri fiksi terasa berakar budaya ketika teknologi masa depannya terhubung dengan sejarah dan identitas masyarakat yang dibayangkan, bukan sekadar menjadi hiasan canggih. Afrofuturisme menawarkan salah satu cara membaca hubungan itu: istilah ini merujuk pada fiksi spekulatif, terutama fiksi ilmiah, yang mengangkat pengalaman kelompok Afrika-Amerika dalam interaksinya dengan teknologi. Cakupannya kemudian meluas ke pengalaman diaspora Afrika lainnya, termasuk bayangan tentang teknologi dan masa depan [1].

Teknologi membawa sudut pandang

Dalam kerangka Afrofuturisme, teknologi bukan cuma soal perangkat atau kemampuan yang dimiliki sebuah negeri. Gagasan itu juga mengundang pertanyaan tentang siapa yang berhak membayangkan masa depan, dan dari pengalaman siapa bayangan tersebut dibentuk. Adriano Elia menggambarkan Afrofuturisme sebagai gerakan budaya transdisipliner yang bertolak dari hubungan tak biasa antara diaspora Afrika yang dimarginalkan karena dianggap "primitif" dengan teknologi modern dan fiksi ilmiah [1].

Pembacaan ini membuat kemajuan teknologi dalam cerita punya konteks. Sebuah mesin atau kota futuristis mungkin tampak menarik, tetapi akar budayanya lebih terasa ketika pembaca dapat melihat kaitannya dengan cara masyarakat dalam cerita memahami diri dan sejarahnya. Itu adalah lensa untuk menilai sebuah dunia fiksi, bukan rumus bahwa semua cerita harus memakai bentuk teknologi tertentu.

Masa depan berhubungan dengan masa lalu

Karya-karya Afrofuturisme secara umum mengangkat tema reklamasi, pembebasan kulit hitam, serta revisi masa lalu dan prediksi masa depan dari sudut pandang budaya kulit hitam [1]. Hubungan tersebut membuat masa depan bukan ruang kosong yang dimulai dari nol. Ia dapat dibaca sebagai bayangan tentang apa yang ingin diambil kembali, diubah, atau diteruskan.

Karena itu, saat menilai latar sebuah negeri fiksi, pertanyaan yang berguna bukan hanya "seberapa maju teknologinya?" Melainkan juga: sejarah siapa yang diingat, pengalaman siapa yang memberi arah, dan seperti apa masa depan yang sedang dibayangkan? Pertanyaan-pertanyaan ini membantu melihat apakah sejarah ikut membentuk dunia cerita atau hanya disebut sekilas.

Budaya hadir dalam pilihan bentuk

Afrofuturisme juga dapat dikenali melalui pilihan visual dan bunyi. Jurnalis Ruth La Ferla menilai estetikanya mulai muncul pada 1970-an, dan menggambarkan busana Afrofuturisme sebagai perpaduan unsur siborg, motif tradisional, citra robot, serta logam mengilap [1]. Sementara itu, musik Afrofuturis digambarkan terinspirasi oleh fiksi ilmiah; pembahasannya mengaitkan perkembangan aliran ini dengan jazz, lalu hip-hop, neo soul, dan tekno [1].

Contoh-contoh itu menunjukkan bagaimana unsur tradisional dan imajinasi teknologi dapat berada dalam satu karya. Namun, motif atau bentuk yang mencolok tidak otomatis memberi sebuah negeri kedalaman budaya. Sebagai pertimbangan editorial, detail akan terasa lebih berakar ketika punya hubungan dengan sejarah dan identitas dunia yang dibangun, bukan sekadar menjadi penanda visual.

Identitas tidak bisa dipukul rata

Afrofuturisme berawal sebagai istilah untuk tema-tema yang berkaitan dengan kelompok Afrika-Amerika, lalu meluas ke pengalaman diaspora Afrika lainnya [1]. Perluasan itu tidak berarti semua pengalaman Afrika sama. Seniman Afrika Selatan Mohale Mashigo menekankan bahwa Afrofuturisme bukan untuk orang Afrika di Afrika dan mengimbau mereka menciptakan karya sendiri tentang teknologi, masa depan, dan spekulasi. Ia menunjuk perbedaan konteks pascakolonial serta keadaan sosial, ekonomi, dan politik antara orang Afrika di Afrika dan komunitas diaspora [1].

Nuansa ini penting ketika membaca atau membangun negeri fiksi. Kumpulan simbol budaya yang dilepaskan dari konteksnya belum tentu membuat dunia cerita terasa punya akar. Sebaliknya, pertanyaan tentang siapa yang diwakili, bagaimana sejarah membentuk identitas, dan apa arti teknologi bagi masyarakat tersebut dapat membuka hubungan yang lebih utuh antara budaya dan masa depan. Dari hubungan itulah sebuah negeri fiksi memperoleh sudut pandangnya sendiri.

Sumber

  • [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Afrofuturisme. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=27974307&title=Afrofuturisme (diakses 2026-10-18).